LAPORAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
CLOUD COMPUTING
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknologi Informasi dilihat dari kata penyusunannya adalah
teknologi dan informasi.Teknologi berarti barang atau sesuatu yang baru.
Sedangkan informasi adalah pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran,
pengalaman, atau instruksi. Jadi, teknologi informasi adalah hasil
rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim
ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan lebih cepat, lebih luas
penyebarannya, dan lebih lama penyimpanannya. Terkait dengan makna
teknologi informasi tersebut, kini proses pengaksesan data telah menuju ke konsep-kosenp social
networking,openess, share, colaborations, mobile, easy maintenance, one
click, terdistribusi/tersebar,scalability, Concurency dan Transparan.
Namun demikian, para pakar teknologi informasi didunia masih
terus melakukan riset untuk meningkatkan kemampuan teknologi informasi sehingga
lebih memudahkan komunikasi dan pertukaran data serta informasi dalam
sistem jaringan global yang terintegrasi dan sistematis. Salah satu yang
menjadi perhatian para ahli adalah riset di bidang Cloud Computing.
Cloud Computing yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi
komputasi awan beberapa tahun terakhir ini telah menjadi buzzword terpanas di
dunia teknologi informasi (TI). Seluruh nama besar seperti IBM,
Microsoft, Google, dan Apple, saat ini sedang terlibat dalam peperangan untuk
menjadi penguasa terbesar terhadap awan ini. Tentu saja masing-masing
mengeluarkan jurusnya sendiri-sendiri.
IBM di paruh akhir tahun 2009 kemarin telah meluncurkan LotusLive,
layanan kolaborasi berbasis cloud. Microsoft, yang sekarang di perkuat
oleh Ray Ozzie sebagai Chief Software Architect pengganti Bill Gates,
menggadang Windows Azure, sistem operasi berbasis cloud yang akan menjadi masa
depan Windows OS. Apple mengambil sisi lain, telah menyediakan layanan
Mobile Me yang memungkinkan pengguna produk Mac, untuk melakukan
sinkronisasi data ke dalam cloud.
Sementara Google, satu-satunya raksasa yang lahir di era internet,
sudah sejak lama memberikan layanan Google Docs yang memungkinkan pengguna
membuat dokumen atau bekerja dengan spreadsheet secara online tanpa perlu
software terinstal di PC atau notebook. Bahkan Google dalam waktu dekat akan
meluncurkan sistem operasi cloud-nya, Chrome OS, yang akan menjadi ancaman
serius bagi para penyedia sistem operasi lain. Namun bisa dibilang,
keberhasilan Salesforce.com-lah yang membuka mata dunia bahwa cloud computing
menjanjikan pundi-pundi emas yang menggiurkan.
1.2 Rumusan masalah
Masalah yang akan dibahas di dalam laporan ini adalah penggunaan
cloud computing
1.3 Batasan Masalah
Batasan-batasan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Pengertian Cloud computing.
2. Layanan yang ditawarkan Cloud Computing kepada usernya.
3. Tipe-tipe penerapan (deployment) dari layanan Cloud Computing.
1.4 Tujuan Laporan
Tujuan laporan ini adalah untuk memahami cloud conputing.
1.5 Manfaat Laporan
Manfaat laporan ini adalah agar pengguna dapat mengetahui tentang
cloud computing.
BAB II
ISI
Cloud Computing (Komputasi Awan) adalah penggunaaan oleh user pada
sebuah computer dan menjalankan sebuah aplikasi dimana file-file tersebut tidak
terdapat di komputer yang digunakannya namun berada di komputer lain
yang dihubungkan oleh jaringan. Dalam Cloud Computing (Komputasi
Awan) terdapat istilah front-end (Desktop-PC) dan back-end(Server).Keduanya
harus saling terhubung oleh sebuah jaringan yang dapat berupa internet atau
untuk skala yang lebih kecil. Front-end (Desktop-PC) yang
mengambil data dan menjalankan aplikasi, sedangkan back-end merupakan resource yang
diistilahkan dengan awan.
Sebuah Cloud bisa berlabel private atau public. Public
cloud menjual layanan kepada siapapun di internet. Private cloud adalah
jaringan pusat data yang memberikan layanan-layanan terpusat kepada
orang-orang dalam jumlah terbatas.
Sejarah Cloud Computing
Ide awal
dari cloud computing bisa ditarik ke tahun 1960-an, saat John McCarthy, pakar
komputasi MIT yang dikenal juga sebagai salah satu pionir intelejensia buatan,
menyampaikan visi bahwa "suatu hari nanti komputasi akan menjadi
infrastruktur publik--seperti listrik dan telpon". Namun baru
di tahun 1995 lah, Larry Ellison, pendiri Oracle , memunculkan ide "Network
Computing" sebagai kampanye untuk menggugat dominasi Microsoft yang saat
itu merajai desktop computing dengan Windows 95-nya.
Larry
Ellison menawarkan ide bahwa sebetulnya user tidak memerlukan berbagai
software, mulai dari Sistem Operasi dan berbagai software lain, dijejalkan ke
dalam PC Desktop mereka. PC Desktop bisa digantikan oleh sebuah terminal
yang langsung terhubung dengan sebuah server yang menyediakan environment yang
berisi berbagai kebutuhan software yang siap diakses oleh pengguna. Ide
"Network Computing" ini sempat menghangat dengan munculnya beberapa
pabrikan seperti Sun Microsystem dan Novell Netware yang menawarkan Network
Computing client sebagai pengganti desktop.
Penulis
sendiri pada tahun '98 sempat mencoba Network Computing yang dikoneksikan ke
sebuah Windows NT Server di mana NC client dapat menggunakan berbagai aplikasi
yang tersedia di dalam server tersebut secara remote. Namun akhirnya,
gaung Network Computing ini lenyap dengan sendirinya, terutama disebabkan
kualitas jaringan komputer yang saat itu masih belum memadai, sehingga akses NC
ini menjadi sangat lambat, sehingga orang-orang akhirnya kembali memilih
kenyamanan PC Desktop, seiring dengan semakin murahnya harga PC.
Tonggak selanjutnya
adalah kehadiran konsep ASP (Application Service Provider) di akhir era
90-an. Seiring dengan semakin meningkatnya kualitas jaringan komputer,
memungkinkan akses aplikasi menjadi lebih cepat. Hal ini ditangkap sebagai
peluang oleh sejumlah pemilik data center untuk menawarkan fasilitasnya sebagai
tempat ‘hosting’ aplikasi yang dapat diakses oleh pelanggan melalui jaringan
komputer. Dengan demikian pelanggan tidak perlu investasi di perangkat
data center. Hanya saja ASP ini masih bersifat "privat", di mana
layanan hanya dikastemisasi khusus untuk satu pelanggan tertentu, sementara
aplikasi yang di sediakan waktu itu umumnya masih bersifat client-server.
Kehadiran
berbagai teknik baru dalam pengembangan perangkat lunak di awal abad 21,
terutama di area pemrograman berbasis web disertai peningkatan kapasitas
jaringan internet, telah menjadikan situs-situs internet bukan lagi berisi
sekedar informasi statik. Tapi sudah mulai mengarah ke aplikasi bisnis yang
lebih kompleks. Dan seperti sudah sedikit disinggung sebelumnya,
popularitas Cloud Computing semakin menjulang saat di awal 2000-an, Marc
Benioff ex VP di Oracle, meluncurkan layanan aplikasi CRM dalam bentuk Software
as a Service, Salesforce.com, yang mendapatkan sambutan gegap gempita. Dengan
misinya yang terkenal yaitu "The End of Software", Benioff bisa
dikatakan berhasil mewujudkan visi bos-nya di Oracle, Larry Elisson, tentang
Network Computing menjadi kenyataan satu dekade kemudian.
Selanjutnya
jargon Cloud Computing bergulir seperti bola salju menyapu dunia teknologi
informasi. Dimulai di tahun 2005, mulai muncul inisiatif yang didorong oleh
nama-nama besar seperti Amazon.com yang meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Compute
Cloud), Google dengan Google App Engine-nya, tak ketinggalan raksasa biru IBM
meluncurkan Blue Cloud Initiative dan lain sebagainya. Semua inisiatif ini
masih terus bergerak, dan bentuk Cloud Computing pun masih terus mencari bentuk
terbaiknya, baik dari sisi praktis maupun dari sisi akademis. Bahkan dari sisi
akademis, jurnal-jurnal yang membahas tentang ini hal ini baru bermunculan di
tiga tahun belakangan. Akhirnya seperti yang kita saksikan sekarang,
seluruh nama-nama besar terlibat dalam pertarungan menguasai awan ini. Bahkan
pabrikan Dell, pernah mencoba mempatenkan istilah "Cloud Computing",
namun ditolak oleh otoritas paten Amerika.
Secara
sederhana, Cloud Computing dapat kita bayangkan seperti sebuah jaringan
listrik. Apabila kita membutuhkan listrik, apakah kita harus punya pembangkit
listrik sendiri? Tentu tidak. Kita tinggal menghubungi penyedia layanan (dalam
hal ini, PLN), menyambungkan rumah kita dengan jaringan listrik, dan kita
tinggal menikmati layanan tersebut. Pembayaran kita lakukan bulanan sesuai
pemakaian.
Kalau
listrik bisa seperti itu, mengapa layanan komputasi tidak bisa? Misalnya,
apabila sebuah perusahaan membutuhkan aplikasi CRM (Customer Relationship
Management). Kenapa perusahaan tersebut harus membeli aplikasi CRM, membeli
hardware server, dan kemudian harus memiliki tim TI khusus untuk menjaga server
dan aplikasi tersebut?
Di
sinilah cloud computing berperan. Penyedia jasa cloud computing seperti
Microsoft, telah menyediakan aplikasi CRM yang dapat digunakan langsung oleh
perusahaan tadi. Mereka tinggal menghubungi penyedia layanan (dalam hal ini,
Microsoft), “menyambungkan” perusahaannya dengan layanan tersebut (dalam hal
ini, melalui Internet), dan tinggal menggunakannya. Pembayaran? Cukup dibayar
per bulan (atau per tahun, tergantung kontrak) sesuai pemakaian. Tidak ada lagi
investasi di awal yang harus dilakukan.
Contoh lain adalah apabila sebuah perusahaan membutuhkan system email yang
terintegrasi dengan domain perusahaan, fasilitas kalender dan perangkat printer
misalnya yang ada di perusahaan, tidak perlu harus menyediakan prasarana email
seperti server, aplikasi email server dan ruang server/data centernya melainkan
tinggal menghubungi penyedia layanan seperti Microsoft, Google atau penyedia
jasa lainnya.
BAB III
ANALSIS SISTEM
3.1 Karakteristik Cloud Computing
Dengan semakin maraknya pembicaraan seputar cloud computing,
semakin banyak perusahaan yang mengumumkan bahwa mereka menyediakan
layanan cloud computing. Akan sangat membingungkan bagi kita para pengguna
untuk memastikan bahwa layanan yang akan kita dapatkan adalah cloud
computing atau bukan. Untuk mudahnya, dari semua definisi yang ada, dapat
diintisarikan bahwa cloud computing ideal adalah layanan yang
memiliki 5 karakteristik berikut ini.
1. On-Demand Self-Services
Sebuah layanan cloud computing harus dapat dimanfaatkan
oleh pengguna melalui mekanisme swalayan dan langsung tersedia pada saat
dibutuhkan. Campur tangan penyedia layanan adalah sangat minim. Jadi, apabila
kita saat ini membutuhkan layanan aplikasi CRM (sesuai contoh di awal), maka
kita harus dapat mendaftar secara swalayan dan layanan tersebut langsung
tersedia saat itu juga.
2. Broad Network Access
Sebuah layanan cloud computing harus dapat diakses dari
mana saja, kapan saja, dengan alat apa pun, asalkan kita terhubung ke jaringan
layanan. Dalam contoh layanan aplikasi CRM di atas, selama kita terhubung ke
jaringan Internet, saya harus dapat mengakses layanan tersebut, baik itu melalui
laptop, desktop, warnet, handphone, tablet, dan perangkat lain.
3. Resource Pooling
Sebuah layanan cloud computing harus tersedia secara
terpusat dan dapat membagi sumber daya secara efisien. Karena cloud
computing digunakan bersama-sama oleh berbagai pelanggan, penyedia layanan
harus dapat membagi beban secara efisien, sehingga sistem dapat dimanfaatkan
secara maksimal.
4. Rapid Elasticity
Sebuah layanan cloud computing harus dapat menaikkan
(atau menurunkan) kapasitas sesuai kebutuhan. Misalnya, apabila pegawai di
kantor bertambah, maka kita harus dapat menambah useruntuk aplikasi CRM
tersebut dengan mudah. Begitu juga jika pegawai berkurang. Atau, apabila kita
menempatkan sebuah website berita dalam jaringan cloud computing,
maka apabila terjadi peningkatkan traffic karena ada berita penting,
maka kapasitas harus dapat dinaikkan dengan cepat.
5. Measured Service
Sebuah layanan cloud computing harus disediakan secara
terukur, karena nantinya akan digunakan dalam proses pembayaran. Harap diingat
bahwa layanan cloud computing dibayar sesuai penggunaan,
sehingga harus terukur dengan baik.
3.2 Kelebihan Cloud Computing
a. Tanpa Investasi Awal
Dengan cloud computing, kita dapat menggunakan sebuah layanan
tanpa investasi yang signifikan di awal seperti server, aplikasi server dan
ruangan untuk penyimpan server/data center. Ini sangat penting bagi bisnis,
terutama bisnis pemula (startup). Mungkin di awal bisnis, kita hanya perlu
layanan CRM untuk 2 pengguna. Kemudian meningkat menjadi 10 pengguna. Tanpa
model cloud computing, maka sejak awal kita sudah harus membeli hardware yang
cukup untuk sekian tahun ke depan. Dengan cloud computing, kita cukup
membayar sesuai yang kita butuhkan.
b. Mengubah CAPEX menjadi OPEX
Sama seperti kelebihan yang pertama, kelebihan yang kedua masih
seputar keuangan.
Tanpa cloud computing, investasi hardware dan software harus
dilakukan di awal, sehingga kita harus melakukan pengeluaran modal (Capital
Expenditure, atau CAPEX). Sedangkan dengan cloud computing, kita dapat
melakukan pengeluaran operasional (Operational Expenditure, atau OPEX). Jadi,
sama persis dengan biaya utilitas lainnya seperti listrik atau telepon ketika
kita cukup membayar bulanan sesuai pemakaian. Hal ini akan sangat membantu
perusahaan secara keuangan.
c. Lentur dan Mudah Dikembangkan
Dengan memanfaatkan Cloud Computing, bisnis kita dapat memanfaatkan
TI sesuai kebutuhan. Perhatikan Gambar 2 di bawah untuk melihat beberapa
skenario kebutuhan bisnis. Penggunaan TI secara bisnis biasanya tidak
datar-datar saja. Dalam skenario “Predictable Bursting”, ada periode di mana
penggunaan TI meningkat tajam. Contoh mudah adalah aplikasi Human Resource (HR)
yang pada akhir bulan selalu meningkat penggunaannya karena mengelola gaji
karyawan. Untuk skenario “Growing Fast”, bisnis meningkat dengan pesat sehingga
kapasitas TI juga harus mengikuti. Contoh skenario “Unpredictable Bursting”
adalah ketika sebuah website berita mendapat pengunjung yang melonjak
karena ada berita menarik. Skenario “On and Off” adalah penggunaan TI yang
tidak berkelanjutan. Misalnya, sebuah layanan pelaporan pajak, yang hanya
digunakan di waktu-waktu tertentu setiap tahun.
Tanpa layanan cloud computing, ke empat skenario ini akan
membutuhkan perencanaan TI yang sangat tidak efisien, karena investasi TI harus
dilakukan sesuai kapasitas tertinggi, walaupun mungkin hanya terjadi di
saat-saat tertentu. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadi kegagalan layanan
pada saat “peak time” tersebut.
Dengan cloud computing, karena sifatnya yang lentur dan mudah
dikembangkan (elastic and scalable), maka kapasitas dapat ditingkatkan pada
saat dibutuhkan, dengan biaya penggunaan sesuai pemakaian.
d. Fokus pada Bisnis, bukan TI
Dengan menggunakan Cloud Computing, kita dapat fokus pada bisnis
utama perusahaan, dan bukan berkecimpung di dalam pengelolaan TI. Hal ini dapat
dilakukan karena pengelolaan TI dilakukan oleh penyedia layanan, dan bukan oleh
kita sendiri. Misalnya, melakukan patching, security update, upgrade hardware, upgrade software, maintenance,
dan lain-lain. Apabila kita memiliki tim TI, maka tim tersebut dapat fokus pada
layanan TI yang spesifik untuk bisnis kita, sedangkan hal-hal umum sudah
ditangani oleh penyedia layanan.
Cloud computing sudah hadir saat ini, termasuk di Indonesia.
Jadi, cloud computing bukanlah sebuah angan-angan, melainkan sudah
menjadi kenyataan dalam dunia TI. Bukan berarti kita semua langsung harus
berpindah saat ini juga : pada kenyataannya cloud computing bukanlah
untuk semua orang. Masih tetap terdapat jenis-jenis layanan yang memang harus
dilakukan secara on-premise, walaupun terdapat juga layanan yang menjadi
sangat efisien bila dilakukan dengan cloud computing. Beberapa jenis
layanan bahkan dapat dilakukan secara bersamaan (hybrid) dengan
menggabungkan kedua jenis implementasi tersebut.
Oleh karena itu, carilah penyedia layanan yang dapat memberikan
saran yang tepat dan terbaik bagi kebutuhan anda. Kesuksesan penggunaan cloud
computing akan sangat ditentukan oleh kemampuan penyedia layanan dalam
memberikan layanan yang tepat dan terbaik bagi pelanggan.
Cloud
Computing jika dilihat dari jenis layanan apa saja yang ada, kita akan dapat
memutuskan jenis yang mana yang mungkin di adopsi di organisasi ataupun bisnis
yang kita jalani. Layanan-layanan komputasi ini tersedia untuk diakses dari
internet karena kata cloud sendiri bermetafora dari kata internet, maka lokasi
fisik dari server-server sumber daya komputasi ini bisa di mana saja, tidak
harus on-premise atau di data center kita sendiri. Saat ini
ada beberapa vendor yang memberikan berbagai jenis layanan cloud computing,
dan secara fisik sumber daya komputasi berada di data center mereka.
Kita sebagai customer cukup mengkonsumsi sumber daya komputasi
tersebut melalui internet tanpa tahu secara detail lokasi maupun server sumber
daya komputasi yang kita pergunakan.
Tiga Golongan Layanan Cloud Computing
Jenis layanan Cloud Computing yang ada, terbagi dalam 3 golongan
yaitu yang disebut sebagai Software as a Service (SaaS), kemudian Platform as a
Service (PaaS) dan terakhir Infrastructure as a Service (IaaS).
a. Software as a Service (SaaS)
Sebagai konsumen individual, kita sebenarnya sudah akrab dengan
layanan cloud computing melalui Yahoo Mail, Hotmail, Gmail, Google
Search, Bing, atau MSN Messenger. Contoh lain yang cukup populer adalah Google
Application ataupun Microsoft Office Web Applications yang merupakan aplikasi
pengolah dokumen berbasis internet.
Di dunia bisnis, kita mungkin familiar dengan SalesForce.com atau Microsoft CRM
yang merupakan layanan aplikasi CRM. Di sini, perusahaan tidak perlu setup hardware
dan software CRM di server sendiri. Cukup berlangganan SalesForce.com
maupun Microsoft CRM, kita bisa menggunakan aplikasi CRM kapan dan dari
mana saja melalui internet. Kita tidak perlu melakukan investasi server maupun
aplikasi. Kita juga akan selalu mendapat aplikasi terbaru jika terjadi upgrade.
Intinya, kita benar-benar hanya tinggal menggunakan aplikasi tersebut.
Pembayaran biasanya dilakukan bulanan, dan sesuai jumlah pemakai aplikasi
tersebut. Dengan kata lain, pay as you go, pay per use, per seat.
Nah, semua layanan ini, dimana suatu aplikasi software tersedia dan bisa
langsung dipakai oleh seorang pengguna, termasuk ke dalam kategori
Software as a Services (SaaS). Secara sederhana, kita langsung mengkonsumsi
layanan aplikasi yang ditawarkan.
Jika kita adalah perusahaan pembuat software, PaaS juga memberi
alternatif lain. Alih-alih memasang software di server konsumen, kita bisa
memasang software tersebut di server milik penyedia layanan PaaS, lalu
menjualnya ke konsumen dalam bentuk langganan. Dengan kata lain, kita membuat
sebuah SaaS. Singkatnya, dengan PaaS, kita membangun aplikasi kita sendiri di
atas layanan PaaS tersebut. Adapun contoh vendor penyedia layanan Paas adalah
Microsoft Azure dan Amazon Web Services.
b. Infrastructure as a Service (IaaS)
Ada kasus ketika konfigurasi yang disediakan oleh penyedia PaaS
tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita berniat menggunakan aplikasi yang
memerlukan konfigurasi server yang unik dan tidak dapat dipenuhi oleh penyedia
PaaS. Untuk keperluan seperti ini, kita dapat menggunakan layanancloud
computing tipe Infrastructure as a Service (IaaS).
Pada IaaS, penyedia layanan hanya menyediakan sumber daya komputasi
seperti prosesor, memori, dan storage yang sudah tervirtualisasi.
Akan tetapi, penyedia layanan tidak memasang sistem operasi maupun aplikasi di
atasnya. Pemilihan OS, aplikasi, maupun konfigurasi lainnya sepenuhnya berada
pada kendali kita.
Jadi, layanan IaaS dapat dilihat sebagai proses migrasi
server-server kita dari on-premise ke data center milik
penyedia IaaS ini. Para vendor cloud computing lokal rata-rata
menyediakan layanan model IaaS ini, dalam bentuk Virtual Private Server seperti
Windows Server Hyper-V, VM Ware Virtualization dan lain-lain.
c. Identifikasi SaaS, PaaS dan IaaS
Perbedaan SaaS, PaaS dan IaaS dapat dilihat dari sisi kendali atau
tanggung jawab yang dilakukan oleh vendor penyedia jasa layanan cloud maupun customer.
Pada gambar 4, di situ dijelaskan stack(jenjang) teknologi komputasi dari
Networking naik hingga ke Application. Di situ juga dijelaskan sampai di stack mana
suatu vendor layanan cloud memberikan layanannya, dan mulai dari
jenjang mana konsumen mulai memegang kendali dan bertanggung jawab penuh
pada stack di atasnya.
Mulai dari kanan, pada SaaS, seluruh stack merupakan
tanggung jawab penyedia layanan cloud. Konsumen benar-benar hanya
mengkonsumsi aplikasi yang disediakan.
Pada PaaS, penyedia layanan cloud bertanggung jawab
mengelola Networking hingga Runtime. Konsumen memiliki kendali dan bertanggung
jawab membuat aplikasi dan juga skema database-nya.
Pada IaaS, penyedia layanan Cloud bertanggung jawab untuk
Networking hingga Virtualization. Konsumen sudah mulai bertanggung jawab untuk
Operating System ke atas.
Sebagai perbandingan, di gambar juga ditunjukkan arsitektur
tradisional on-premise (bukan cloud), alias semua ada di data
center kita. Di sini kita bertanggung jawab untuk seluruh stack, dari
Networking hingga Application.
No comments:
Post a Comment