Bisa kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan pengguna internet sangatlah pesat. Hal ini mengubah struktur ekonomi yang awalnya dilaksanakan secara konvensional menjadi sistem ekonomi yang berbasiskan teknologi informasi. Revolusi teknologi informasi telah mengubah sistem perbankan mulai dari penggunaan ATM hingga electronic banking sebagai alat bantu untuk melakukan transaksi. Hal ini merupakan contoh konkrit dari penerapan konsep digital economy.
Secara keseluruhan, digital economy banyak menimbulkan sektor
industri baru. Hal ini disebabkan karena adanya penggabungan berbagai disiplin
dalam komputasi (komputer, piranti lunak, jasa), komunikasi (telefoni, kabel,
satelit, jaringan nirkabel), dan content (hiburan, penerbitan, penyedia
informasi). Dengan demikian perilaku yang tercermin pada era ekonomi baru ini
pun akan turut berubah total. Tanpa melalui jenjang-jenjang yang sangat
berarti, dunia telah memasuki era dimana pergerakan ekonomi tidak lagi
berdasarkan pada pertukaran secara fisik, tetapi berbasis pada ilmu
pengetahuan. Ciri ekonomi di era Networked Intelligence ini disebut sebagai
ekonomi digital (digital economy).
Sebagaimana disebutkan pada paragraf sebelumnya, pada era ekonomi
sebelumnya arus informasi mengalir secara fisik: tunai, cek, surat tagihan,
laporan, rapat, panggilan telpon secara analog, transmisi radio atau televisi,
cetak biru, peta, foto-foto ataupun iklan-iklan selebaran. Di era ekonomi
aliran baru (digital economy), berbagai bentuk informasi berubah menjadi
digital dan disimpan dalam bentuk data bit. Dengan demikian sebuah dunia baru
dengan segala kemungkinannya telah tercipta dengan sedemikian nyata seperti
halnya terciptanya bahasa.
Informasi di era ekonomi digital menjadi bahan baku yang diolah
sehingga menjadi sebuah produk yang berbasiskan pengetahuan dan didistribusikan
melalui jaringan elektronik global. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan
kesejahteraan baik dilakukan secara konvensional maupun melalui marketspace
(pasar di awang-awang) yang baru tercipta ini.
Definisi dari marketspace adalah dunia serba elektronik dimana
penjual dan pembeli bertemu dan mengadakan kegiatan perdagangan tanpa adanya
interaksi secara fisik sebagaimana yang dilakukan di aktifitas perdagangan
tradisional sebelumnya. Menggunakan kerangka kerja Prof. Rayport dari Sekolah
Bisnis Harvard, belanja di awang-awang (marketspace) memang beda dengan belanja
tradisional. Isi (content) penjualan tidak perlu secara fisik, namun cukup
informasi tentang buku. Lebih utamanya lagi, tidak perlu ada toko buku secara
fisik, tapi sebuah agen penjualan yang rajin memelihara database-nya. Dan
infrastruktur yang merupakan pelaksana dari berlangsungnya transaksi bukan lagi
orang, tapi perusahan telekomunikasi yang menjadi saluran informasi. Keberadaan
marketspace ini yang nantinya akan menimbulkan adanya perubahan sebuah nilai.
Saat teknologi telekomunikasi akan saling bergandeng tangan dengan
komputer dan sisi komersial dari Internet akan melambung, pertambahan kecepatan
dari perubahan akan menjadi sangat radikal. Konvergensi dari teknologi ini,
bersama dengan proses digitalisasinya membuat perusahaan tidak hanya mampu
memberikan produk dan layanan yang ada dalam bentuk baru, namun juga mampu
menciptakan produk dan jasa baru berdasarkan pada apa yang telah diketahui.
Pesatnya pertumbuhan World Wide Web dan Internet membuat infrastruktur yang ada
saat ini dapat dipergunakan untuk memberikan produk dan jasa yang dibuat
berdasarkan pengetahuan kepada pasar global yang lebih luas lagi.
Beberapa perusahaan lain juga telah menyadari pentingnya penggunaan
Internet secara maksimal untuk menciptakan langkah-langkah inovatif dalam
pelayanan pelanggannya. Saat ini, pelanggan menginginkan informasi, kemudahan,
dan layanan individualis. Dunia usaha harus mampu memuaskan keinginan pelanggan
ini sementara di lain pihak secara simultan mampu menurunkan biaya dan
mempersingkat time-to-market.
No comments:
Post a Comment